maria ulfa

Model Pembelajaran JOSUA

In Uncategorized on Desember 24, 2012 at 4:54 am

 

 

Model Pembelajaran JOSUA (Jaringan Observasi, Simulasi, dan Ulangan akhir)

Model pembelajaran ini adalah gabungan dari beberapa strategi dalam pembelajaran yang di desain menjadi satu kesatuan utuh yang diharapkan bisa membantu menciptakan proses kegiatan belajar yang efektif dan lebih inovatif, dalam model pembelajaran ini siswa diarahkan untuk lebih aktif dalam menjalani proses pembelajaran, dan guru sebagai fasilitator yang membimbing, mengarahkan, dan mengevaluasi dari setiap kegiatan yang dilaksanakan siswa.

Model JOSUA ini terutama didasarkan pada pendekatan kontekstual. Yang mana. Ada tujuh prinsip dasar pengembangan model ini, yakni berpusat pada siswa, berdasarkan masalah, terintegrasi, berorientasi masyarakat, menawarkan pilihan, sistematis dan berkelanjutan. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekannkan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari, Mulyasa (2008: 102). Prinsip berpusat pada siswa menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang secara aktif membangun pemahaman dengan jalan merangkai pengalaman yang telah dimilikinya dengan pengalaman baru yang ditemukan. Sebagai subjek siswa, siswa diposisikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dalam arti sebagai pemegang sentral kemudi pembelajaran. Guru berposisi sebagai motivator, fasilitator, pendukung, dan pendamping siswa dalam belajar.

Mulyasa (2008), mengemukakan bahwa dalam pemebelajaran kontekstual dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam dalam diri peserta didik (internal). Sehubungan dengan itu, Zahorik dalam Mulyasa (2008) mengungkapkan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai berikut.

·           Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.

·           Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus).

·           Pembelajaran harus ditentukan pada pemahaman, dengan cara menyusun konsep sementara, melakukukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain, dan merevisi serta mengembangkan konsep.

·           Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.

·           Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

Seperti yang telah dipaparkan di depan bahwa model pembelajarn JOSUA ini mendasarkan pada pembelajaran kontekstual (CTL). Oleh karena itu, komponen pembelajaran CTL, yang meliputi konstruktivisme, modelling, masyrakat belajar, inkuiri, bertanya, penilaian autentik, dan refleksi, juga digunakan dalam model ini. Asumsi yang mendasari model ini adalah sebagai berikut: (1) siswa belajar melalui pengamatan selektif terhadap prilaku yang menyenangkan; (2) siswa belajar secara aktif merangkai pengalaman untuk membangun (teori belajar bahasa fungsional); (3) dalam belajar, siswa tidak dapat melepaskan diri dari konteks (budaya, lingkungan, kehidupan sosial) tempat dan waktu mereka belajar; (4) siswa adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial; (5) belajar merupakan proses individual dan sekaligus proses sosial; (6) belajar bukan sekedar kerja otak, melainkan kerja beragam indera; (7) belajar lebih efektif jika siswa dalam keadaan senang; (8) belajar terjadi secara terus-menerus; serta (9) sebagian besar dalam belajar (bahasa) adalah keterampilan berbahasa, karenanya pemodelan menjadi langkah penting dalam pembelajaran (bahasa)

Kerangka dari setiap model pembelajaran berada pada sintaksnya. Demikian pula dengan model ini. Model pembelajaran ini terdiri atas empat sintaks yang diuraikan sebagai berikut.

a.         Jaringan

Sebuah jaringan berasal dari adanya berbagai kelompok yang melakukan aktifitas dan saling menimbulkan proses bantu-menbantu antara satu dengan yang lainnya. Gerungan (2004)mengemukakan bahwa  yang dimaksud kelompok adalah agregat sosial dimana anggota-anggotanya yang saling tergantung, dan setidak-tidaknya memiliki potensi untuk melakukan interaksi satu sama lain. Ciri-ciri utama kelompok adalah

a)      motif yang sama antara anggota kelompok,

b)      reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berlainan antara anggota kelompok,

c)      penegasan struktur kelompok, dan

d)     penegasan norma-norma kelompok.

Dalam setiap kelompok, biasanya beberapa orang berbicara lebih banyak daripada orang lain, dan orang yang berbicara banyak cenderung muncul sebagai pemimpin. Pembatasan-pembatasan dalam komunikasi, dapat menimbulkan berbagai jenis jaringan komunikasi.

Dalam persaingan dan kerja sama, pada negara-negara maju seperti Amerika, cenderung bersaing meskipun mereka memperoleh ganjaran eksternal yang lebih besar bila bekerja sama. Penelitian juga dilakukan melalui penelitian lintas budaya yang menemukan adanya persaingan yang lebih kuat diantara anak-anak yang berasal dari negara industri, kota, dan keluarga kelas menengah.

Pemimpin kelompok adalah orang yang memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku dan keyakinan kelompok. Seorang memimpin tugas mengarahkan diri ada tercapainya tujuan kelompok.  Seorang pemimpin sosial berusaha mempertahankan keselarasan dan semangat kelompok agar tetap tinggi. Orang yang menjadi pemimpin cenderung memiliki kemampuan-kemampuan yang membantu kelompok mencapai tujuannya. Ada 2  (dua) jenis pemimpin yaitu pemimpin Demokratis dan pemimpin Otoriterian.

Oleh karena itu dalam model Pembelajaran ini diawali dengan penguatan materi oleh seorang guru, dilanjutkan dengan pembentukan jaringan kelompok (network). Jaringan kelompok (network) yang dimaksudkan dalam model pembelajaran JOSUA adalah siswa di kelompokkan menjadi beberapa kelompok aktif, dalam setiap kelompok diarahkan terdiri dari berbagai macam siswa baik terutama dari segi kemampuan akademiknya. Hal ini ditujukan agar pada setiap jaringan kelompok siswa tersebut dapat terjadi proses gotong royong atau saling bantu membantu satu sama lain, sehingga hasil yang diperoleh dari pembelajaran yang menggunakan model ini akan seimbang.

b.        Observasi

Observasi merupakan teknik paling mendasar dalam teknik penilaian non testing. Observasi akan menghasilkan data yang merangsang dilakukannya hipotesis yang lain

Observasi yang efektif melalui pengamatan secara jelas, sadar dan selengkap mungkin tentang prilaku individu sebenarnya dalam keadaan tertentu.

Pentingnya observasi adalah kemampuan dalam menentukan faktor-faktor awal mula prilaku dan kemampuan untuk melukiskan secara akurat reaksi individu yang diamati dalam kondisi tertentu. Observasi mungkin perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu untuk menentukan sejauh mana beberapa faktor yang kecil sesuai dengan desain yang lebih besar.

Pengumpulan data melalui observasi langsung atau dengan pengamatan tersebut memiliki kriteria sebagai berikut;

a.         observasi digunakan untuk pembelajaran dan telah direncanakan secara sistematik;

b.        observasi harus berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan;

c.         observasi tersebut dicatat secara sistematis dan dihubungkan secara proporsium dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja;

d.        observasi dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan rehabilitasnya.

Dalam model pembelajaran ini, sebelum melakukan observasi guru menjelaskan materi  yang harus diobservasi oleh siswa serta rambu-rambu pelaksanaan observasi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar terebut, hal ini ditujukan agar siswa tidak salah arah dan tujuan dalam melaksanakan observasi. Kemudian siswa melaksanakan observasi, baik keberbagai pakar (guru-guru lain) sesuai bidang yang menjadi tujuan mereka, ataupun observasi dengan melakukan pencarian dalam berbagai buku yang tersedia di perpustakaan sekolah, namun hal ini diberi batasan waktu dan hanya dalam lingkup sekolah agar waktu pembelajaran dapat lebih efisien dalam penggunaannya.

c.         Simulasi

Simulasi memiliki makna metode pelatihan yang memeragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya dan juga pengembangan suatu sistem atau proses dengan peragaan berupa model statistik atau pameran yang berarti menirukan (menyerupakan kepada sesuatu yang lebih sederhana, misalnya bentuk yang besar dengan yang lebih kecil

Dan simulasi merupakan suatu teknik meniru operasi-operasi atau proses- proses yang terjadi dalam suatu sistem dengan bantuan perangkat dan dilandasi oleh beberapa asumsi tertentu sehingga sistem tersebut bisa dipelajari secara ilmiah.

Simulasi merupakan satu pembelajaran melalui pengalaman. Peserta belajar dari kesiapan dan berpeluang untuk meningkatkan diri dalam situasi yang berikutnya.

1.    Dalam simulasi, peranan peserta agak luas, kerana peserta bukan sahaja dikehendaki memegang peranan sebagaimana yang ditentukan tetapi mereka perlu berbincang dan memberi sumbangan kepada perserta-perserta bagi membuat keputusan

2.    Peserta dikehendaki berinteraksi secara dinamis dalam sistem yang berkaitan, membuat keputusan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi

3.    Tujuan simulasi ialah membolehkan pelajar menggunakan bahasa agar lebih berfungsi dan memberi pelajar peluang berinteraksi serta berkomunikasi dengan berkesan

4.    Kebaikan teknik ini ialah membolehkan pelajar berbincang dan berfikir secara kreatif, analisis dan kritis

Dalam pembelajaran model JOSUA proses simulasi dilaksanakan apabila hasil observasi telah tercapai, yang harus dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah membuat laporan kelompok secara rapi guna disimulasikan di depan kelompok lain dalam kelas tersebut. Dalam kegiatan simulasi ini siswa harus mempresentasikan hasil dari observasi mereka dan kelompok lain memberikan tanggapan sedangkan guru menjadi pengoreksi/fasilitator dalam kegiatan simulasi tersebut.

d.        Ulangan Akhir

Tahap akhir dalam model pembelajaran ini adalah pelaksanaan ulangan akhir sesuai dengan materi yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar pada saat itu, namun sebelum itu guru menjelaskan materi yang sempurna dan benar menurut tujuan pembelajaran yang dilaksanakan. Hal ini ditujukan agar para siswa dapat memahami apakah materi yang tepat dan benar untuk dijadikan koreksi bagi kegiatan yang mereka laksanakan dalam pembelajaran.

Tabel 1 sintaks model JOSUA

No

Sintaks

Komponen

Sasaran/Bentuk Kegiatan

1

Jaringan

o   Pengkondisian kelas

o   Pembetukan kelompok belajar

o   Penganalisisan materi

o   Individual

2

Observaasi

o   Pengklasifikasian topik

o   Pencarian bahan pemecahan masalah topik

o   Perumusan pemecahan masalah topik

o   Pembuatan laporan

o   Kelompok

§  Persiapan bermain peran dalam observasi

§  Diskusi

§  Persiapan permainan

§  demonstrasi

3

Simulasi

o   Pemaparan hasil secara lisan

o   Pemajangan hasil

o   Kelompok

§  Presentasi kelompok

§  Pameran

§  Demonstrasi

4

Ulangan akhir

o   Penyimpulan materi pembelajaran

o   Penyimpulan kegiatan pembelajaran

o   Penganalisisan manfaat pembelajaran

o   Penilaian kegiatan pembelajaran

o   Penilaian hasil pembelajaran

o   Penindaklanjutan kegiatan pembelajaran

o   Individual

§  Tanya jawab

§  Angket

§  Tes

§  Pengerjaan LKS

§  pengoreksian

o   Kelompok

§  Tanya jawab

§  Angket

§  Tes

§  Pengerjaan LKS

§  pengoreksian

 

Agar model pembelajaran ini dapat diterapkan dengan baik, diperlukan sistem pendukung diantaranya adalah lingkungan sekolah yang memenuhi standar pendidikan, sumber daya manusia yang relatifkreatif yang mampu menangkap ruh dari sintaks-sintaks yang ada dan mampu mengadaptasinya menjadi model-model yang lebih kontaekstual. Yang tidak kalah penting adalah sarana dan prasarana.

Tujuan Pembelajaran Model JOSUA

Diharapkan dengan penggunaan model pembelajaran ini, adalah sebagai berikut;

1.    lebih menarik minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan benar;

2.    mendesain proses pembelajaran yang menuntut siswa aktif;

3.    membantu guru menciptakan pembelajaran yang inovatif;

4.    menciptakan ketercapaian tujuan pembelajaran;

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: